SSILA

Penguatan Skema Value Chain dalam Menciptakan Dampak Ekonomi Lokal Masyarakat

Value Chain atau rantai nilai menurut Porter (1985) merupakan gambaran dari setiap aktivitas dalam sebuah organisasi yang berkontribusi dalam menciptakan nilai untuk pelanggan dan mendorong terciptanya keunggulan kompetitif. Pengertian lain disampaikan oleh Kaplinsky dan Morris (2000) menyatakan bahwa, rantai nilai dapat membantu memetakan peningkatan kualitas pendapatan dan usaha masyarakat setempat. Pada level UMKM, konsep ini menjelaskan bagaimana usaha kecil dan menengah dalam meningkatkan efisiensi, nilai produk dan berdaya saing. Dalam buku Competitive Advantage karya Porter (1985), Value chain dijelaskan sebagai rangkaian aktivitas organisasi yang mampu meningkatkan nilai pada produk dan jasa sampai diterima oleh konsumen.

Lantas, Aktivitas Value Chain Apa yang Bisa Diadopsi oleh UMKM?

  1.  Inbound Logistics (Pengadaan Bahan Baku)

Aktivitas ini diterapkan oleh UMKM dalam mengelola bahan baku pilihan, bagaimana penyimpanan bahan baku, memilih pemasok, pengadaan bahan baku, kontrol kualitas bahan baku hingga penyimpanan bahan baku sebelum diproduksi. Salah satu UMKM di Palu, Rumah Rohesa, berhasil memproduksi serundeng kelapa, mengelola pasokan kelapa dari pemasok lokal untuk menjaga kelancaran produksi, dan kualitas produk. Dengan mengambil bahan baku dari pemasok lokal, UMKM telah melakukan efisiensi dalam menjaga kelancaran produksi karena pasokan bahan baku lebih cepat dan stabil. Selain itu, produk lokal mampu menjaga kualitas bahan baku lebih segar dan mudah dikontrol kualitasnya (Puspita,2022).

  1. Operations (Produksi)

Proses produksi merupakan aktivitas utama yang di dalamnya mengolah bahan baku menjadi produk jadi sebelum dijual kepada konsumen. Salah satu tahapan yang dilakukan oleh UMKM Kripik Tempe Pecah 1000 di Desa Kaliboto Lor, Kabupaten Lumajang, mengadopsi prinsip produksi dalam value chain, yaitu mengolah proses produksi dari pemotongan tempe, pembuatan adonan bumbu, proses penggorengan, penirisan, pendinginan, dan pengemasan produk. Rangkaian proses tersebut menjadi bagian value chain karena melalui proses perubahan dari bahan baku menjadi produk yang layak jual dan bernilai ekonomi (Harpis dkk,2023)

Proses produksi UMKM secara umum mencakup berbagai tahapan terstruktur yang diperoleh dari supplier, antara lain: (1) Pengadaan bahan baku dengan pemilihan bahan yang disesuaikan dengan standar kualitas SOP dari rumah produksi, (2) Proses pengolahan produk jadi, (3) Pengendalian kualitas (quality control) dilakukan guna memastikan produk memenuhi kriteria atau standar, (4) Tahap pengemasan dilakukan untuk menjaga mutu dan menyajikan tampilan produk yang menarik, (5) Distribusi produk pada agen dan reseller, (6) Pemasaran produk.

     3. Outbound Logistics (Distribusi)

Aktivitas ini menekankan pada proses pendistribusian melalui toko, reseller dan platform digital seperti Shopee, TikTok, Tokopedia, Lazada dan sebagainya. Di Kota Solo, Jawa Tengah, terdapat UMKM Mukenaku yang memiliki jaringan distribusi luas di berbagai daerah. Selain itu, UMKM ini menjalankan proses distribusi dengan dua cara, yaitu pertama, pengiriman pesanan kecil dengan kapasitas di bawah 100 pcs dikirim menggunakan motor langsung kepada pembeli (konsumen). Kedua, pengiriman pesanan besar dengan kapasitas 500-1000 pcs dilakukan menggunakan mobil atau truk. Selain itu, ada sistem reseller yang mengirimkan produk ke agen-agen sebelum sampai pada pembeli (konsumen) atau yang dikenal dengan penerimaan tangan kedua (Maulana, 2022).

  1. Marketing and Sales (Pemasaran)

Untuk menjangkau konsumen lebih luas, UMKM memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menawarkan produk yang dijual. Salah satu merek dagang kopi di Jakarta yang cukup populer di kalangan pemuda yaitu Kopi Tuku. UMKM ini menjalankan berbagai strategi pemasaran, antara lain branding kopi yang menarik menggunakan konsep kopi lokal dengan harga terjangkau sehingga mampu menjangkau berbagai jenjang kalangan, promosi melalui media sosial Instagram untuk mengenalkan produk, menu, dan promo kepada konsumen. Word of mouth marketing adalah salah satu cara efektif dalam mendorong kepuasan pelanggan serta meningkatkan promosi sederhana melalui cerita dari mulut ke mulut sehingga meningkatkan cakupan pasar. Selanjutnya, yang tidak kalah penting adalah strategi harga yang ditawarkan relatif terjangkau dibanding- kan dengan kompetitor kopi premium lainnya sehingga menarik minat pembeli. Strategi tersebut terbukti mampu bersaing dan menjadi brand  paling populer dan berkembang pesat di Indonesia.

      5. Service (Layanan Konsumen)

Layanan konsumen merupakan bentuk layanan dengan cara memberikan respons cepat kepada pelanggan dan menjaga hubungan baik. Aktivitas tersebut antara lain memberikan pelayanan kepada pelanggan, penanganan keluhan, pemberian informasi produk, dan sebagainya. Salah satu  contoh penerapan layanan konsumen yang diterapkan oleh UMKM Batik Tulis Lasem di Kabupaten Rembang menerapkan layanan konsumen berupa bentuk service yang diberikan pelanggan antara lain: (1) konsultasi produk kepada pelanggan misalnya menanyakan motif, bahan dari kain cara perawatan dan kualitas produk yang awet (2) pelayanan pemesanan khusus atau custom produk memberikan kebebasan konsumen dalam menentukan desain tertentu sesuai kebutuhan (3) pelayanan komunikasi dengan pelanggan yaitu memberikan informasi bagaimana proses produk si dan ketersediaan stok produk (4) menangani keluhan pelanggan jika terdapat ketidaksesuaian produk, maka penjual menanggapi keluhan dengan memberikan solusi atau retur. (Tahwin dkk., 2016).

Penjelasan di atas menjelaskan bahwa penerapan setiap komponen dalam value chain yang diadopsi oleh UMKM di Indonesia telah menunjukkan efektivitas dalam pengelolaan usaha UMKM secara terintegrasi mulai dari penyiapan bahan baku, proses produksi, distribusi, pemasaran, hingga layanan konsumen, sehingga meningkatkan efisiensi operasional dan menciptakan nilai tambah produk. Dengan demikian, adopsi value chain  yang dilakukan oleh UMKM terbukti tidak hanya mampu mempertahankan kualitas produk, tetapi juga dapat memperluas pasar dan meningkat- kan kepuasan pelanggan. Lebih dari itu, rantai nilai tersebut dapat memperkuat daya saing dan keberlanjutan usaha di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat. 

Referensi

Harpis, M., Hasibuan, M., & Simanullang, H. (2025). PENGEMBANGAN RANTAI NILAI (VALUE CHAIN) EKONOMI KREATIF MELALUI HILIRISASI ENERGI TERBARUKAN DI TINGKAT UMKM MEDAN JOHOR. Jurnal Manajemen Ekonomi dan Bisnis4(2), 109-125.

Kaplinsky, R., & Morris, M. (2000). A handbook for value chain research (Vol. 113). Brighton: University of Sussex, Institute of Development Studies.

Maulana, A. (2022). Analisis Value Chain Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Pada Umkm (Studi Kasus: Umkm Mukenaku) (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).

Porter, M. E. (2008). Competitive advantage: Creating and sustaining superior performance. simon and schuster.

Puspita, D., Syamsuddin, S., Asngadi, A., & Hadi, S. (2025). Aktivitas Inbound Logistik, Conversion Operation dan Outbound Logistik Pada Pengolahan Serundeng Kelapa di UMKM Rumah Rohesa. Jurnal Media Wahana Ekonomika22(2), 325-339.

Tahwin, M., Mahmudi, A. A., & Dewi, D. A. L. (2016). Model Supply Chain Management Dalam Upaya Pengembangan Industri Batik Tulis Lasem Kabupaten Rembang. Fokus Ekonomi: Jurnal Ilmiah Ekonomi11(2).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *