SSILA

Menavigasi Dampak: Mengukur Keberhasilan Program dengan Sustainability Compass

Menilai perubahan dampak yang terukur dari suatu program Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan pendekatan Sustainability compass. Skema pengukurannya menggunakan empat dimensi sebagai sudut pandang dalam menilai dampak perubahan secara konstan dari program yang telah dijalankan. Empat dimensi tersebut antara lain aspek Nature (alam), Economy (ekonomi), Social (sosial) dan Wellbeing (kesejahteraan). Pendekatan Sustainability compass dinilai mampu memastikan dampak program yang dijalankan berdasarkan empat sisi perubahan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Mengenal Empat Dimensi Sustainability compass

Alan AtKisson seorang pakar sustainability expert dari Amerika Serikat memberikan penjelasan mengenai empat dimensi dalam Sustainability compass dengan melihat keterkaitan sistem yang saling terhubung. Dia menjelaskan pengembangan konsep ini didasarkan dengan pemahaman, pengukuran dan komunikasi sebagai penilaian dampak dari kegiatan yang dilakukan. Berikut kerangka konsep yang dikembangkan oleh AtKisson Group terdiri dari Nature yaitu dampak yang dihasilkan dari lingkungan seperti emisi, limbah dan biodiversity, Economy yaitu dampak yang terlihat dari pendapatan dan efisiensi pembiayaan, Society yaitu dampak sosial yang terjadi akibat timbulnya partisipasi dan penerimaan masyarakat (legitimasi) dan Wellbeing yaitu dampak dari kualitas hidup seperti kesehatan, pendidikan, kebahagiaan dan sebagainnya berikut penjelasan detailnya,

  • Nature (N)

Dimensi ini berfokus pada kondisi dan daya dukung ekosistem yang bergantung pada sumberdaya alam dan aktivitas manusia yang didukung dengan pemenuhan kebutuhan dari alam. Dimensi Nature mengukur dampak perubahan dari emisi gas rumah kaca, penggunaan sumber daya air dan energi, biodiversity serta limbah dan polusi.

  • Economy (E)

Dimensi ini mengarah pada peningkatan perekonomian, selain itu juga mencakup efisiensi ekonomi dan keberlanjutan dalam pemanfaatan sumber daya. Dimensi Ekonomi memetakan pendapatan dan profit, efisiensi biaya, peluang lapangan kerja dan produktivitas dalam menciptakan nilai ekonomi.

  • Society (S)

Dimensi ini melihat struktur sosial, hubungan dan keadilan dalam hubungan masyarakat. Dimensi society dicirikan dengan terbentuknya kohesi sosial dan partisipasi dari masyarakat. Dalam hubungan bermasyarakat, keberlanjutan dibutuhkan untuk memperoleh dukungan kolektif dan menjaga hubungan harmonis antar individu maupun institusi. Pengukuran dalam dimensi society mencakup partisipasi masyarakat, keadilan sosial, akses pendidikan dan kesehatan, bentuk kelembagaan dan governance.

  • Weelbeing (W)

Dimensi ini berhubungan dengan kualitas hidup manusia secara subyektif dan obyektif. Berbeda dengan dimensi nature, economy dan society, dimensi ini memfokuskan pada pengalaman hidup manusia. Dimensi weelbeing mengukur aspek kesehatan fisik dan mental, kepuasan hidup, rasa aman dan kebahagiaan.

Kontribusi Perusahaan dalam Mengukur Keberhasilan Program

Penerapan sustainability compass dalam konteks Corporate Social Responsibility dilakukan oleh beberapa perusahaan indonesia, salah satunya adalah PT Pertamina Patra Niaga di wilayah Ambon. Program CSR pengelolaan sampah dan pendidikan yang di integrasikan pada empat dimensi pengukuran keberlanjutan, melalui kegiatan Bank sampah, penciptaan lapangan kerja dan peningkatan akses pendidikan untuk kelompok anak usia dini. Berdasarkan analisis sustainability compas dampak dari program tersebut menunjukkan dampak lingkungan (nature) melalui pengurangan sampah, dari sisi ekonomi (economy) program ini menciptakan peluang pekerjaan bagi masyarakat sekitar dalam mengelola bank sampah, sisi sosial (society) ditunjukkan dengan partisipasi masyarakat dan pemenuhan akses pendidikan. Serta dimensi kesejahteraan (weelbeing) dapat dilihat dari pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat khususnya bagi masyarakat yang sebelumnya belum memperoleh pekerjaan (Mas’ud et al., 2025) berdasarkan program tersebut, analisis kompas keberlanjutan mampu digunakan sebagai evaluasi komprehensive dalam menciptakan dampak program secara berkelanjutan.

Sementara itu, Perusahaan Pupuk Kalimantan Timur menjalankan bisnisnya dengan mengelaborasikan strategi engineering yang mumpuni dengan mengembangkan inovasi di bidang industrinya dan mendorong kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. Melalui program Pemerintah dalam melakukan penilaian terhadap kinerja lingkungan perusahaan (PROPER). Program ini dimaksudkan untuk mendorong dunia usaha dalam meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungannya terus berkembang dan mengalami perbaikan. PKT bersama masyarakat berkolaborasi dalam upaya pelestarian lingkungan melalui tahapan core competency knowledge transfer yaitu mengikutsertakan masyarakat dalam aksi lingkungan “Kilau Samudera”. Program tersebut telah menunjukkan dampak keberlanjutan antara lain luasan tutupan terumbu mencapai 3.557 m2 dan peletakan media sebanyak 6.882 ea. Berdasarkan analisis sustainability compass, PKT telah mendorong kesadaran masyarakat nelayan PITRAL menerapkan metode ramah lingkungan sekaligus berkontribusi dengan pemerintah dalam menerapkan kurikulum belajar bagi sekolah-sekolah disekitar. Contoh tersebut telah menunjukkan dampak dari segi weelbeing dan society, dilain sisi, aspek nature yang dicapai sebagai serapan karbon mencapai 8,47 kg CO2 eq/ hari sedangkan aspek ekonomi yang diperoleh adalah peningkatan pendapatan anggota nelayan yang menembus angka Rp 71.595.000 per tahun.

Paparan diatas telah menggambarkan bagaimana sustainability compass digunakan sebagai acuan dalam mengukur keberhasilan program secara berkelanjutan. Kerusakan pada dimensi alam memang tidak terlihat secara langsung, melainkan dampaknya jangka panjang seperti perubahan iklim sehingga perlu diawali dengan tahap mitigasi. Berbeda halnya dengan aspek sosial seringkali berkaitan dengan aspek ekonomi dimana perubahan ekonomi yang tidak dapat dikendalikan atau di ketahui sejak awal berpotensi pada stabilitas lingkungan dan sosial yang ikut terganggu. Sementara itu, bilamana program yang berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi akan berpotensi mengalami kegagalan jika tidak diterima secara sosial di lingkungan masyarakat. Dimensi terakhir adalah kesejahteraan, yang sulit diukur dengan kuantitas tetapi memiliki pengaruh besar dalam setiap tujuan akhir dari program pembangunan.

Dengan demikian, sustainability compass tidak sekedar dijadikan sebagai alat dalam mengukur keberlanjutan program, tetapi dapat digunakan sebagai acuan dalam rencana strategis untuk merancang, mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas program berkelanjutan sehingga dampaknya mampu menciptakan keseimbangan hubungan manusia terhadap pemenuhan kebutuhannya, pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan dimasa mendatang.

Referensi

Al Hafiz, M. P. (2023). Sustainability compass, kunci Pupuk Kaltim jaga keberlanjutan bisnis. Marketeers.

AtKisson, A. (2015). The Sustainability Transformation: How to Accelerate Positive Change in Challenging Times. Routledge.

Mas’ ud, I., Putri, M. A., Gunawan, A., Syaranamual, S., & Youwe, S. M. (2025). Sustainability Compass dalam CSR: OPLAS452 terhadap Integrasi Pengurangan Sampah dan Peningkatan Akses Pendidikan di Kota Ambon. Jurnal Silatene Sosial Humaniora3(1), 18-23.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *