Apa itu FOLU Net Sink?
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia telahmenyusun rencana strategis dalam upaya efisiensi energi sebagai bagian darikomitmen jangka panjang pelestarian lingkungan. Forestry and Other Land Use (FOLU) atau yang lebih dikenal dengan FOLU Net Sink adalah langkah kebijakanyang diambil oleh Pemerintah Indonesia dalam upayapenurunan emisi gas rumahkaca (GRK) yang tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC). FOLU Net Sink menjadi target kebijakan iklim Pemerintah yang berfokus pada pengendaliansektor kehutanan dan keanekaragaman hayati.Dengan upaya ini, diharapkan pada tahun 2030 serapan karbon yang dihasilkan hutan lebih besar daripada emisi yang dilepas ke atmosfer sehingga tercipta kondisi net sink (penyerapan GRK) sebesar45%.
Apa Tujuan Kebijakan FOLU Net Sink?
FOLU Net Sink menjadi tujuan utama sektor kehutanan dan pengelolaan lahan(FOLU) dalam mengoptimalkan penyerapan gas rumah kacaDitargetkan, pada tahun2030, diproyeksikan akan mencapai net sink -140 juta ton CO2-eq atau emisi negatifsebesar 140 juta ton CO2-eqDengan demikian, FOLU tidak lagi menjadi sumberemisi melainkan dirubah sebagai penopang utama mitigasi perubahan iklim di Indonesia. Arah kebijakan ini turut berkontribusi pada:
- Mitigasi perubahan iklim skala nasional hingga internasional seperti mendukungkomitmen Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia, PerjanjianParis (Paris Agreement).
- Pengendalian deforestasi dan degradasi hutan termasuk kebakaran hutan dan lahan
- Peningkatan serapan karbon yang diwujudkan dalam aksi rehabilitasi hutan dan lahan terdegradasi, reboisasi dan aforestasi, pengembangan agroforestri, perlindungan dan restorasi mangrove dan gambut
- Pengelolaan hutan berkelanjutan, memastikan pemanfaatan hutan berdampak secaraekonomi, tidak merusak fungsi ekologis dan mendukung kesejahteraanmasyarakat yang hidup dan bergantung dengan hasil hutan
- Mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan yang diselaraskan dalam menjagakeanekaragaman hayati, mengurangi risiko bencana ekologis (banjir, longsor dan kekeringan), mendukung ketahanan pangan dan air
Sejauh mana FOLU Net Sink di Jalankan?
Upaya Pemerintah menghadapi tantangan isu perubahan iklim mendapatkandukungan dari negara Norwegia. Bantuan tersebut telah diterima dalam beberapa kali tahap sebesar US$216 juta pada fase pertama sebesar US$56 dan US$100 juta pada fase kedua dan ketiga dan fase ketiga dan kekempat sejumlah US$60 juta FOLU Net Sink 2030 melalui skema Result Based Contribution (RBC) sudah berlangsung sejaktahun 2022 dan terus di dorong hingga 2030 mendatang. Komitmen lingkungan iniberakar pada perjanjian paris melalui Undang-undang Nomor 16 Tahun 2016 yang diperkuat dengan Second NDC Indonesia yang disampaikan kepada United Nations Framework Conversation on Climate Change (UNFCCC) pada 2025.
Pemerintah mulai menggarap misi ini pada akhir tahun 2025, implementasiFOLU NC-1 mencakup lebih dari 17.000 hektar lahan direhahabilitasi dan direstorasidengan penanaman sebanyak 7,2 juta bibit yang tersebar di ekosistem hutan daratan, gambut serta mangrove. Selain itu, Pemerintah melibatkan masyarakat dalampenanaman di 4,6 juta bibit di lahan seluas 11.215 hektar yang melibatkan 35.180 orang dalam 383 kelompok. Aksi nayata tersebut telah menghasilkan dampak positifpenyerapan karbon sebesar 21.000 ton CO₂ dan menyelesaikan 40 konflik penguasaanlahan.
Simpulan
FOLU merupakan satu dari lima sektor program mitigasi iklim yang secarakhusus berfokus pada pengelolaan kehutanan dan penggunaan lahan lainya sepertihutan, gambut, mangrove, pertanian, dan perkebunan. FOLU NET SINK sendirimerupakan kebijakan penyerapan emisi gas rumah kaca (GRK) melalui sektorkehutanna dan pengelolaaanya, dengan target capaian pada tahun 2030. Pemerintahmengambil langkah penyerapan (sink) sebagai strategis utama dalam meresponperubahan iklim di Indonesia.
Intergovermental Panel on Climate Change (IPPC) sebagai badan riset khususyang menangani perubahan iklim menargetkan net zero emission (NZE) pada tahun2060 tetap stabil di angka 1℃ untuk menjaga kenaikan suhu bumi tidak melonjakekstrim. Sejalan dengan hal tersebut, , Pemerintah mengambil kebijakan FOLU Net sink dan menargetkan sebesar 45% penurunan emisi pada tahun 2030 yang berasaldari pengelolaan hutan. FOLU Net Sink menjadi bagian penting dari komitmennasional dalam penanganan iklim sebesar 60% dari penurunan GRK yang berpijakpada komponen Sustainable Forest Management (SFM) atau pengelolaan hutanberkelanjutan dan lestari sejalan dengan UU Cipta Kerja dalam PP No. 23 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan,yang menekankan legalitas, pengawasan, kepastianpembangunan, serta pengelolaan ekosistem hutan secara terpadu dalam skema multiusaha, sehinggapelaku usaha dapat meminimalkan risiko bencana lingkungan, degradasi, dan deforestasi akibataktivitas operasional kehutanan
Referensi
ANTARA News. (2025, 29 Agustus). Indonesia integrates 2030 FOLU Net Sink into climate priorities. https://en.antaranews.com/news/376393/indonesia-integrates-2030-folu-net-sink-into-climate-priorities
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2025). FOLU Net Sink 2030: Program dan strategi pencapaian (hal. overview). KLHK. https://www.menlhk.go.id/program/folu-net-sink
KLHK RI. (2022). Rencana Operasional Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030.
Kompas.com. (2025). https://lestari.kompas.com/read/2025/12/29/123032086/sektor-folu-disebut-mampu-turunkan-60-persen-emisi-nasional